Hadiah ulang tahun papa

Saya adalah anak tunggal Ayahku. Sejak dulu, kami hanya hidup berdua saja. Mamaku telah lama bercerai dari Ayahku sejak saya masih SD kelas 1. Saya tak pernah mau tahu kenapa mereka bercerai. Sejak saat itu, saya tinggal dengan Ayahku. Ayahku itu ganteng sekali. Meskipun usianya sekarang hampir mencapai 40, dia masih nampak awet muda. Rambutnya memang agak beruban, tapi tak terlalu menonjol. Kerutan memang mulai nampak di wajah tampannya itu namun tak sebanyak kerutan di wajah kebanyakkan pria berusia 40an. Tubuhnya memang tidak atletis, dengan sedikit lemak di bagian perut. Namun, secara keseluruhan, dia tak nampak gemuk sama sekali.

Kami dekat sekali, selalu berbagi kegembiraan dan kesedihan. Singkat kata, Ayahku itu Ayah yang terbaik sedunia. Saya amat menyayanginya, sampai-sampai terkadang saya mengira saya telah jatuh cinta padanya. Saya sendiri tak tahu bagaimana perasaan Ayahku terhadapku. Yang kutahu adalah bahwa dia amat sangat menyayangiku seperti seorang ayah menyayangi anaknya. Walaupun kami dekat sekali, norma-norma kesopanan tetap kami jaga. Saya tak pernah sekalipun melihat kontolnya, hanya sering melihat dadanya saja sebab dia suka berjalan telanjang memakai celana dalam saja. Saya sendiri sangat pemalu, saya tak mau Ayahku melihat tubuhku. Mungkin karena saya tak percaya diri dengan bentuk tubuhku yang agak terlalu langsing. Tapi semuanya akan segera berubah, tepat di malam ulang tahunku yang ke-18.

Malam itu, saya memutuskan untuk tidur lebih awal. Sekujur tubuhku letih sekali setelah latihan fisik di sekolah pagi tadi. Saya selalu benci pelajaran olahraga, karena saya tak terlalu suka capek. Tapi sisi baiknya, saya menjadi cepat mengantuk dan ingin tidur lebih pagi. Seperti biasa, saya telah melolosi semua pakaianku, dan berbaring telanjang bulat dengan nyaman. Bahkan saya tak ingin sehelai selimut pun menutupi tubuhku. Rasanya nyaman sekali dapat bebas dari belenggu pakaian yang harus kukenakan dari pagi sampai malam.

Dengan cepat, saya terlelap, tak menyadari bahwa sesosok bayangan pelan-pelan memasuki kamarku dan berdiri di sisi ranjangku. Tubuh telanjangku menjadi menu utama matanya. Saya baru tersadar ketika dia menepuk-nepuk pipiku dan membangunkanku. Begitu kedua matau terbuka, kulihat Ayahku berdiri menatap ketelanjanganku. Meskipun keadaan di kamarku remang-remang, namun cukup jelas untuk melihat segala sesuatu. Malu sekali, cepat-cepat kututupi Vaginaku yang setengah ngaceng dengan tanganku. ‘Astaga, sudah berapa lama dia melihat tubuh telanjangku?’ pikirku, wajahku memerah seperti kepiting rebus.

“Tak perlu malu, Putriku,” katanya, duduk di sisi ranjang.

Satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhnya hanya celana dalamnya yang agak terlihat usang. Bercak kekuningan nampak di bagian depan celana dalamnya di mana kontolnya mulai mendesak ingin keluar. Astaga, Ayahku ereksi melihat tubuhku!

“Kamu cakep sekali, Putriku,” katanya lagi, tangannya mulai membelai-belai bahuku.
“Ayolah, jangan kau tutupi kemaluanmu. Biarkan Ayah melihatnya. Ayo.”

Dengan lembut, dia berusaha menyingkirkan tanganku agar Vaginaku terekspos. Saya tak tahu harus berbuat apa selain membiarkannya.

“Anak Ayah sudah besar, yah,” komentarnya saat melihat Vaginaku mulai ngaceng.
“Bulu-bulunya lebat sekali,” tambahnya lagi saat melihat bahwa dasar Vaginaku ditutupi bulu jembut yang rindang seperti hutan Amazon.

Saya tahu apa yang sedang Ayahku lakukan. Dia ingin merayuku. Dia ingin mengajakku untuk tidur dengnnya. Dia ingin bersetubuh denganku!! Agak ragu, saya berkata,

“Pa, jangan, Pa.” Kurasakan tangannya yang kasar membelai-belai Vaginaku.
“Kumohon, Pa. Jangan,” mohonku lagi.

Sebagian diriku memang ingin sekali bercinta dengannya, tapi sebagian lagi melarang. Incest itu salah dan dosa, apalagi incest yang satu ini melibatkan hubungan sesama jenis. Insting moralku memaksaku untuk menolak rayuan Ayahku.

“Jangan takut, Putriku. Ayah takkan menyakitimu. Ayah hanya ingin bersamamu. Andai saja kau tahu betapa sendirinya Ayah selama bertahun-tahun.” Sahutnya dengan nada sedih yang mendalam.
“Alasan Ayah tak menikahi wanita lain karena Ayah sayang padamu. Ayah sengaja menunggu, sampai kamu cukup umur. Sekarang kamu sudah berumur 18 tahun, Putriku.”

Kulihat jam weker di meja kecil yang terletak tepat di samping ranjangku. Jam itu menunjukkan pukul 12 lewat 45. Itu berarti, sudah 45 menit lamanya saya berumur 18tahun. Saya sudah dewasa!

“Ayah punya sebuah hadiah ulang tahun untukmu, Putriku.”

Dengan itu, dia berdiri. Kemudian, tanpa malu, Ayahku mulai melepaskan celana dalamnya. Saya hanya dapat menatap kontolnya dengan pandangan tak berkedip, takjub sekali. Kontol Ayahku indah sekali. Panjangnya nyaris 20 cm, keras seperti baja, dan ukuran kepala kontolnya besar sekali. Bulu jembutnya tak selebat punyaku, mungkin kebanyakkan rontok.

“Pa, kenapa Ayah menunjukkan batang Ayah padaku?” tanyaku keheranan.

Seharusnya saya memalingkan mukaku, namun tak kulakukan. Mataku terpaku pada kontolnya yang menjulang tingi di depanku. Saya ingin melihat kontol Ayahku! Entah kenapa, kurasakan gairah yang bergelora di dalam diriku. Tanpa sadar, tanganku meraih ke depan dan menggenggam kontolnya. Aaahh.. Rasanya hangat dan keras. Kontol itu terasa amat hidup, berdenyut-denyut dengan nafsu birahi.

“Ayo, pegang saja, Putriku. Ini hadiah Ayah untukmu. Kamu sekarang sudah dewasa. Ayah tak ingin kamu terjerumus dalam seks bebas. Ayah tahu kamu mungkin ingin tahu banyak tentang seks. Ayah akan ajarkan semua yang Ayah tahu. Oh Putriku, Ayah sayang sekali padamu.”

Kedua tangannya yang besar dan kasar meraba-raba punggungku. Kemudian, mereka beralih pada dadaku. Mulanya, Ayahku meremas-remasnya secara perlahan, namun makin lama, remasannya menjadi makin kuat. Tanganku ynag tadinya sibuk mengusap-ngusap kontol Ayahku, kini mulai mengocok-ngocoknya, berharap Ayahku akan ‘keluar’ sesegera mungkin. Nafsu mulai menguasai kami berdua. Desahan napas yang memburu-buru memenuhi kamarku. Kami saling bertatapan, saling mengetahui pikiran kami masing-masing.

Tiba-tiba, Ayahku memelukku. Tubuhnya sangat besar dibandingkan tubuhku. Sebenarnya jika dia ingin fitness, tubuhnya takkan kalah dengan tubuh Owen McKibbin, salah satu cover Men’s Health yang hampir seumur dengan Ayahku. Dengan tubuhnya, Ayahku menindihku dan kami terjatuh ke atas ranjangku yang empuk. Kami saling bertatapan, mencari persetujuan dari masing-masing pihak.

“Putriku, apakah kamu menginginka Ayah mengajarkanmu seks?” tanyanya, matanya menatapku penuh harapan, berharap saya mengatakan ‘ya’.
“Ya, Ayah. Ajari saya. Saya ingin tahu bagaimana caranya untuk memuaskanmu, Pa. Ajari saya. Saya siap, Pa,” jawabku.

Benteng pertahananku runtuh. Sungguh tak mudah menolak rayuan ayah sendiri! Ditindih seperti itu, saya dapat merasakan degup jantung Ayahku. Rasanya kencang sekali. Kontolnya sendiri menempel pada anusku, berhubung Ayahku sedikit lebih tinggi dariku.

Ayahku bangkit dan melepaskan tindihannya. Kemudian dia berdiri di sisi ranjangku sambil menyodorkan kontolnya yang kini mulai basah dengan cairan precum. Dalam jarak sedekat itu, akhirnya saya dapat melihat kontol Ayahku dengan jelas. Kontolnya sama seperti Vaginaku, belum disunat. Tapi karena tegang luar biasa, kepala kontolnya sudah keburu menyembul keluar dari kungkungan kulit khitannya. Dengan bangga, kepala kontol itu berdenyut-denyut di depanku, berkilauan dengan precum.

“Pelajaran pertama,” kata Ayahku, “Oral seks. Sekarang coba kamu kulum kontol Ayahmu ini. Pelan-pelan saja. Angap kontol ini seperti permen. Kulum dalam mulutmu dan jauhi gigimu. Kemudian hisap terus sambil menjilat-jilat. Terus lakukan itu sampai Ayah ngecret.”
“Baik, Pa.”

Dengan patuh, saya duduk, memegang kontolnya dan kemudian memasukkannya ke dalam mulutku. Sayup-sayup terdengar desahan nikmatnya saat mulutku yang hangat menyelimuti kepala kontolnya. Meskipun baru pertama kali sebatang kontol bersarang di dalam mulutku, namun instingku mengajariku bagaimana cara memuaskan kontol. Kuikuti saran Ayahku; kuhisap-hisap kepala kontolnya dan kujilati kepala itu. Ayahku mengerang-ngerang seperti orang kesakitan. Saya malah semakin bersemangat. Pertama kali, sejujurnya, rasa kontol itu agak aneh, sulit untuk melukiskannya. Rasanya agak asin bercampur manis. Baunya pun sedikit pesing dan tajam. Saya jadi teringat bau celana dalamku sendiri. Tapi lama-kelaman, semuanya terasa enak.

Tanpa ampun, kusedot kontol Ayahku sekuat-kuatnya. Mulutku telah berubah fungsi menjadi vacum cleaner. Kubayangkan saya sedang menyedot sari buah kelapa dengan menggunakan sedotan ajaib. Tiba-tiba rasa asin menyerang lidahku. Cairan licin mulai membanjiri lidahku, mengalir keluar dari dalam lubang kontolnya. Saya tahu cairan apa itu. Itu adalah precum. Saya sering melihatnya ketika saya asyik mencoli Vaginaku sendiri. Ayahku semakin bergairah, tubuhnya sedikit terguncang karena nikmatnya hisapanku. Tangannya kembali meraba-raba punggung dan dadaku. Ayahku memang tahu benar cara merangsang sesama pria.

“.. Hhhoohh.. Hisap terus, nak.. Ooohh.. Yyyeess.. Hisap kontol Ayah.. Aaahh.. Kontol yang dulu membuatmu.. Uuugghh.. Ayah sayang kamu.. Hhoohh..”

Erangan-erangannya semakin lama semakin tak jelas terdengar. Yang lebih terdengar adalah suara deruan napasnya yang berat.

“.. Hhoohh.. Uuugghh.. Hhhoosshh.. Aaahh..”

Terlalu asyik dihisap oleh muluku, Ayah rupanya ingin mengambil kendali. Bagikan sedang mengentot, kontolnya didorong-dorong masuk ke dalam mulutku. Terkadang kontol Ayahku masuk terlalu dalam sampai hampir menutup kerongkonganku. Berkali-kali saya hampir tersedak namun selalu dapat kutahan. Seiring dnegan waktu, nafsu menjadi smeakin besar, mendorong spermanya keluar. Dengan lolongan keras, Ayahku menekankan kontolnya dalam-dalam, tangannya mengcengkeram kepalaku kuat-kuat. Berikutnya, kontolnya jebol. CCROOTT!! CCROOTT!! CCRROTT!!

“.. AaaAARRGGHH..!!”

Bagaikan air bah, pejuhnya menerjang masuk dan turun ke kerongkonganku. Tak ada waktu untuk menghindar, apalgi Ayahku memegang kepalaku. Tak ada pilihan lain. Terpaksa kutelan semua air maninya. Rasanya asin dan aneh. Saya tak pernah mencicipi apapun dengan rasa aneh seperti itu. Tapi bairpun aneh, menurutku rasanya lumayan enak. Jadi, tanpa protes, saya menelan semua, habis tak bersisa. Sementara itu tubuh Ayahku masih mengejang-ngejang, menuntaskan orgasmenya.

“AARRGHH!! UUGGHH!! OOHH!! AAHH.. UUHH..” begitu semuanya usai, Ayahku menarik kontolnya keluar.

Saya agak kecewa sebab saya masih ingin lagi. Ayahku nampak letih sekali, keringat bermunculan dari pori-porinya.

“Pa, saya suka nyedot kontol Ayah. Enak, sih,” sahutku, tersenyum mesum. Setetes pejuh nampak mengalir keluar dari sudut bibirku.
“Baguslah. Ayah harap kamu suka dengan hadiah Ayah,” jawab Ayahku, memelukku.

Ah, pelukannya hangat sekali dan penuh cinta. Saya merasa aman sekali dalam pelukannya. Ingin rasanya waktu berhenti selamanya agar Ayahku dan saya dapat tetap berpelukkan seperti itu.

“Ayah masih punya hadiah lain untukmu, Putriku,” katanya sambil melepaskan pelukannya.

Dengan penuh cinta, Ayahku membaringkanku di atas ranjangku. Bantalku diletakkan tepat di bawah pinggulku. Dengan demikian, pantatku terekspos, sangat rawan untuk dikerjain. Ayahku yang perkasa itu lalu naik ke atas ranjang dan berlutut di depan kakiku.

“Ayah mau memberimu hadiah yang terbaik, nak. Pantatmu akan Ayah isi dengan cairan kelaki-lakian Ayah. Kamu mau, ‘kan?” Saya menganguk-ngangguk, tanda setuju.

“Mulanya akan sakit, tapi kamu tahan, yah. Kamu ‘kan sudah berusia 18 tahun sekarang. Sebentar lagi kamu akan kuliah. Kamu harus belajar untuk menerima penderitaan dalam hidupmu agar kamu kuat menjalani hidup ini. Jadi, kamu harus sanggup menahan rasa sakit ini, oke?”

Saya kembali mengangguk, mempersiapkan diriku untuk menerima kontolnya. Ayahku merentangkan kedua kakiku dan membukanya lebar-lebar.

“Aaahh.. Lubang pantatmu seksi sekali, nak. Ayah tusuk, ya?” Kembali saya mengangguk.

Setelah mendapat izinku, Ayahku langsung menancapkan kepala kontolnya pada anusku. Mulanya agak susah, yapi dia tetap memaksa dan mendorong.

“Ooohh.. Pa, tusuk pantatku, Pa.. Ooohh.. Ayo, Pa.. Saya sudah tak tahan lagi.. Ooohh..”

Saya kemudian diperintahkan untuk ‘ngeden’ agar anusku terbuka. Meski bingung, saya menurut saja. Begitu saya ‘ngeden’, tiba-tiba kontol Ayah yang besar langsung menancap masuk.

“AARRGGHH..!!” teriakku, sakitnya sungguh tak terkira.

Anusku serasa terbuka lebar-lebar, terasa jelas gesekan antara kontolnya dengan dinding dalam pantatku. Begitu kepala kontol Ayah masuk dengan suara PLUP! lubangku menutup dan mencekik batang kontol Ayah. Saya langsung merasa penuh sekali; kontol Ayah terasa besar sekali di dalam perutku. Anusku masih berkedut-kedut dengan rasa sakit seperti luka bakar, tapi sampai sejauh itu saya masih sanggup bertahan.

“Ini baru anak Ayah. Ayah bangga padamu, nak. Kamu sanggup menerima kontol Ayah yang besar ini. Sekarang Ayah genjot, ya. Kamu harus bertahan, ok?”

Ayah menciumiku lalu kembali berkonsentrasi pada kontolnya. Begitu Ayah mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, saya mulai mengerang kesakitan. Rasanya anusku akan robek, tak sanggup menampung kontol Ayah.

“.. Ooohh.. Pa, sakit sekali rasanya.. Aaahh.. Saya tak kuat..”

Mataku berlinang air mata, saya menangis terisak-isak sambil menahan perih. Tapi Ayahku tak mengindahkanku. Dia tetap menggenjot pantatku. Kasihan sekali anusku. Sementara itu, erangan kesakitanku semakin menjadi-jadi. Saya mencoba untuk meronta-ronta, namun tak berhasil. Saya juga mencoba untuk menjauhi kontol Ayahku, namun kedua tangannya memegang kakiku erat-erat. Sementara itu, melihat perlawananku, Ayahku malah menjadi makin bernafsu.

Kontolnya didorong masuk sekeras mungkin sampai-sampai saya mengira dia akan melubangi perutku. Terasa sekali kontolnya meraba-raba ususku. Lalu tiba-tiba semua mulai berubah nikmat. Saya tak tahu kenapa, tapi ada sebuah gelombang nikmat yang menguras tenagaku. Tubuhku menggelinjang keenakkan seolah-olah saya sedang orgasme. Rasa sakit masih tetap ada, namun tertutupi oleh rasa nikmat yang berlipat ganda itu.

Napas Ayahku semakin memburu-buru. Keringat mulai berjatuhan dari wajahnya dan membasahi perutku. Pandangannya serius sekali, terkesan sedikit garang.

“.. Hhhooh.. Hhoohh.. Pantatmu sempit sekali.. Aaahh.. Enak.. Aaarrgghh.. Ayah genjot lebih kuat lagi ya? Uuugghh.. Hhoosshh..” Tubuh kami terguncang-guncang sampai-sampai ranjangku berderak-derak. Saya khawatir ranjangku akan rubuh, berhubung tenaga Ayahku besar sekali.
“.. Ooohh.. Nak, Ayah hampir sampai.. Hhhoohh.. Aaahh..”

Saya paham benar apa yang akan terjadi selanjutnya. Ayahku akan ngecret! Untuk merangsangnya, saya mulai berkata-kata kotor.

“.. Uugghh.. Ayo, Pa.. Ngentotin pantat anakmu ini.. Hhhohh.. Kontol Ayah gede banget.. Ooohh.. Ngentotin saya, Pa.. Uuuhh..”

Usahaku berhasil sebab Ayah semakin bersemangat. Ritme ngentotnya begitu cepat dan bertenaga. Anusku dihajar habis-habisan, tanpa ampun sedikit pun. Saya tak menyangka bahwa Ayahku jantan sekali. Saya membayangkan betapa repotnya Mamaku dulu karena harus melayani nafsu kuda pejantan ini. Siapa yang mengira bahwa Ayahku akan mengentotinku seperti saat ini.

“.. AARRGGHH..!! Ayah is.. CccCCUUMMINNGG!!” teriaknya, sok memakai bahasa Inggris.

CCRROTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!

Pejuhnya yang sepanas lava menerjang masuk, ‘menghanguskan’ isi pantatku. Setiap kali kontolnya menembakkan sperma, Ayahku melenguh seperti kerbau.

“UUGGHH..!! UUGGHH!! UUGGHH!! HHOOHH..”

Tubuhnya kelojotan, tetap berpegangan erat pada kedua kakiku yang terentang lebar-lebar.

“Uugghh..” desahnya saat tetes pejuh terakhir menetes keluar dari lubang kontolnya.

Ayahku terbaring lemas, menimpa tubuhku. Napasnya yang panas mendera wajahku. Sebelum saya sempat ebrkata apa-apa, Ayah tiba-tiba membalikkan badannya sambil memelukku. Jadi kini Ayah berbaring di bawah sementara saya berada di atas tubuhnya yang bersimbah keringat.

“Giliranmu, Putriku. Duduk di atas perut Ayah dan kocok kontolmu. Ayah ingin melihat pejuhmu tersembur keluar. Ayo, nak. Demi Ayah. Mau ‘kan?” bujuknya, membelai-belai rambutku.
“Tentu saja, Pa.”

Saya duduk sementara kontol Ayah masih bersarang di dalam pantatku. Ayah memang hebat. Meskipun sudah ngecret dua kali, kontolnya masih saja tegang. Saya menunduk dan menyaksikan betapa ngacengnya Vaginaku itu. Kepala Vaginaku yang berwarna agak keungu-unguan itu berdenyut-denyut, dilumuri precum. Tanpa malu-malu, saya menggenggam Vaginaku dan mulai mengocoknya. Vaginaku terus kukocok, naik-turun, naik-turun, naik-turun..

“Ooohh.. Hhhoohh.. Hhhoosshh.. Aaahh.. Uuuhh..”

Detak jantungku semakin cepat dan napasku semakin memburu. Sebentar saja, Vaginaku pun memuntahkan pejuhnya.

“Hhoohh.. Pa, saya ngecret.. Ooohh..”

CCRROOTT!! CCRROTT!! CCRROOTT!!

“AARRGGH..!! PPAAPPAA..!!” erangku, tubuhku mengejang-ngejang.

Untung saja kedua tangan Ayahku yang kuat memegangku sehingga saya tak terjatuh. Orgasme menguasaiku dan membutakan semuanya. Yang saya pikirkan hanyalah orgasme dan ejakulasi. Pejuhku terpancar jauh mengenai wajah Ayahku. Semakin ditembakkan, jaraknya semakin berkurang. Sekujur tubuh Ayahku penuh dengan noda-noda spermaku.

“.. Aaarrgghh..” desahku ketika semuanya berakhir.
“Oh, Putriku yang manis,” Ayahku berbicara.

Tangannya menarik tubuhku sehingga saya pun jatuh menindih tubuh ayahku yang besar. Putingnya yang selalu kencang mengosok-gosok dadaku. Spermaku menempel pada tubuh kami berdua. Dari jauh, kami lebih mirip dua roti tawar yang diolesi dengan mayones.

“Selamat ulang tahun yang ke-18, Putriku,” sambungnya, “Ini hadiah Ayah untukmu.”
“Terima kasih, Pa,” balasku, “Saya suka sekali dengan hadiah ini.” Kucium Ayahku dengan mesra.
“Ayah cinta padamu, Putriku. Ayah ingin agar kita selalu bersama, tak terpisahkan. Ayah akan menjagamu selamanya, nak. Ayah hanya minta cintamu sebagai balasannya.”
“Ayah tak perlu meminta hal itu. Saya juga cinta Ayah. Saya terharu Ayah pun memikirkan hal yang sama. Saya sayang Ayah,” kataku, merangkulnya erat-erat.

Air mata bahagia mengalir, membasahi pipiku. Saya tak peduli apa pandangan masyarakat, moral dan agama tentang hubungan incest homoseks ini. Yang kutahu adalah Ayahku dan saya saling mencintai. Takkan ada yang dapat menghalangi kami. Hari-hari kami selanjutnya selalu diisi dengan seks, seks, dan skes. Kami seakan tak pernah puas. Sayang sekali tak semua ayah dan anak memikirkan hal yang sama dengan yang kami pikirkan. Mereka tak tahu apa yang telah mereka lewatkan!

Tag: , , , , , , , .